Mengembalikan Jati Diri Bangsa 2
STICKY POST
STICKY POST
Mengembalikan Jati Diri Bangsa 2
Hmm.. Mengembalikan Jati diri Bangsa.. yayaya.. bener.. Mengembalikan Jati Diri Bangsa.. dalam rangka mengulas semua itu tentang Mengembalikan Jati Diri Bangsa yang telah hilang dan terpuruk.. maka saya mengangkat kembali tulisan lama.. apa yang sebenarnya terjadi dan telah hilang dari diri terkecil dari bangsa.. yaitu diri kita masing masing.. Sangkan Paraning Dumadi.. dari mana engkau berasal ?.. Hendak kemana engkau pulang ?.. dan apa TUJUAN HIDUPmu ?.. mudah mudahan dengan menata diri kita masing masing sedikit demi sedikit terurai semua permasalahan yang menimpa negeri tercinta ini.. yayaya.. Mengembalikan Jati Diri Bangsa..
---888---
Krisis Multi Dimensi akan terjadi di tahun 2005
Bumi akan bergoncang dan menelan manusia manusia yang takabur
Air dan angin akan menyapu manusia manusia yang lupa diri
Api akan membakar sehingga terjadilah emosional manusia yang tak terkendali
Di saat itu kemanakah engkau akan berlindung ???
Bencana yang sangat dahsyat telah menimpa saudara kita di NAD, di mana nyawa manusia sudah demikian tidak ada artinya bergeletakan ditengah puing puing dan reruntuhan, wabah penyakit menular siap untuk menyerang, shock dan deparesi mental sangat berat yang belum tentu bisa disembuhkan dalam waktu yang singkat. Kejadian ini begitu menggugah dan membangunkan rasa kemanusiaan yang begitu besar, bantuan berdatangan begitu banyak mulai dari dalam sampai ke luar negeri, semua mata dan perhatian dunia terpusat kesana.
Tapi hanya cukup begitu sajakah ? Lalu adakah makna lain buat kita yang masih hidup ? sementara diantara peringatan Tuhan yang menimpa saudara kita petunjuknya begitu jelas di mana ada Mesjid yang masih berdiri dengan begitu megahnya diantara puing puing reruntuhan, apakah kita tidak mengerti juga wahai saudaraku ?. Mesjid adalah rumah Tuhan, rumah ALLAH petunjuknya begitu jelas marilah saudaraku kembalilah kerumah Tuhan, kembali carilah Tuhan lebih dari segalanya maka engkau semua akan selamat. Banyak dari kita saudaraku yang beribadah dan masuk kedalam rumah ibadah hanya untuk menjalankan kewajibannya, mereka datang dan pergi tidak mendapat apa apa, tapi seberapa banyak dari kita saudaraku yang masuk rumah Tuhan dengan membawa hati yang rindu untuk bertemu dan menyembah ALLAH kita. Berapa banyak saudaraku ???
Krisis Multi Dimensi terjadi di Negara ini, suatu krisis moral yang demikian hebatnya menimpa seluruh manusia Indonesia dari kalangan paling bawah sampai ke atas, dari level pemulung sampai pejabat teras, Mengapa semua ini bisa terjadi saudaraku ???.. Sehingga jika ada satu orang jujur saja masuk kedalam satu lingkungan karena begitu langkanya kejujuran ini di antara kita sehingga orang itulah yang pertama kali di kucilkan dan disingkirkan karena di anggap sebagai sesuatu yang akan membahayakan. Benarkah saudaraku benarkah sudah terjadi pergeseran standar moral bangsa ini yang begitu jauh ? Mengapa ???
Satu hal saudara ku bangsa ini sudah terlalu takabur dan lupa akan dirinya sehingga kita semua telah kehilangan Tuhan ??? sudah tidak ada lagikah yang mengenali ALLAHNYA !!!
Wahai saudaraku marilah kita yang masih diberikan kesempatan oleh Tuhan sehingga kita masih bernafas menghirup udara serta masih bisa menikmati keindahan ciptaan Tuhan ini mengintrospeksi kembali apa yang sudah kita lakukan ? Mari kita menyadari mengapa sampai saat ini kita masih hidup, jawabannya Cuma satu kita saat ini masih hidup hanya karena kasih dan kemurahan ALLAH saja, sama sekali bukan oleh kekuatan, pangkat ataupun oleh kekayaan kita sendiri. Apa yang bisa kita sombongkan wahai saudaraku ? kita datang dan pergipun tidak bawa apa apa, tapi mengapa hati kita sudah begitu buta sehingga kita lupa tujuan hidup kita saudaraku. Seberapa banyak orang yang mengetahui tujuan hidupnya ? padahal jelas dari pertama juga tujuan hidup manusia hanyalah satu yaitu melayani Tuhan, biar dalam pekerjaan, berumah tangga dan dalam bermasyarakat kita melayani Tuhan, sehingga akan tertanam di hati kita akan tanggung jawab terhadap ALLAH, diri sendiri dan sesama. Sehingga satu hal tidak akan ada di antara kita yang hanya takut akan manusia biarlah kita menjadi manusia yang hanya takut akan Tuhannya. Ingat saudara saudaraku tanggung jawab kita terhadap ALLAH inilah yang paling berat dan suka tidak suka, mau tidak mau harus kita pertanggung jawabkan di hari akhir nanti, sudah siapkah saudaraku ? Ingatlah kembali wahai saudaraku hidup kita di dunia yang fana ini hanya sementara dibatasi bilangan umur yang tak seberapa, apakah rela itu semua engkau tukar dengan kehidupan kekal kita di akherat nanti ? renungkanlah saudaraku, sekali lagi renungkan dan renungkan kemana langkah kita sekarang ?
Saudaraku selagi kita masih di beri kesempatan untuk menghirup udara pagi tibalah saatnya buat kita untuk berbenah diri, mamperbaiki kesalahan kita semua selagi belum terlambat. Biarlah kita masing masing menyadari dan terus merenungkan hal ini dan mengembalikan tujuan hidup kita sehingga bangsa ini dapat berubah menjadi bangsa yang takut akan TUHAN. Sehingga bangsa ini dapat dilepaskan dari krisis pergeseran moral dan bangsa ini menjadi bangsa yang besar.
Ya ALLAH !!!
Ampunilah kami semua yang telah terlalu ingkar dari Mu
Sadarkanlah kami dari mimpi kami yang buruk ini
Buatlah bangsa ini menjadi bangsa yang takut akan Engkau
Jauhkan kami yang hina ini dari siksa Mu
Ya ALLAH !!!
---888---
Mari sahabat dan saudaraku kita mulai dari diri kita masing masing.. bebenah diri.. taubatan nasuha.. mulai berjalan menghampiri DIA.. dalam tangis sujud syukur dan penyerahan diri.. la hawla walla quwata.. tiada mampu tiada berdaya upaya.. temukan frekuensi hatinya untuk meraih Fitrah Diri dalam Ketenangan Jiwa.. demi Mengembalikan Jati Diri Bangsa.. Jayalah Negeri ku.. Indonesia ku yang TerCINTA
RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk
MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll
Kesadaran Diri Sejati , Fitrah Diri Manusia , Saresehan Budaya Spiritual Nusantara , Mengembalikan Jati Diri Bangsa , Triwikrama Budaya Sarana Mengembalikan Jati Diri Bangsa, Gempa Tasikmalaya Waspadalah !!! , Gempa Yogyakarta , Rintihan Bumi , Gempa 7,6 SR di Sumatera Barat , Kholifah Bumi Amanat Suci ALLAH , Pancasila sebagai Jati Diri Bangsa






October 30th, 2009 - 18:46
Para
[Reply]
October 30th, 2009 - 18:47
Pemenang
[Reply]
October 30th, 2009 - 18:47
Good
[Reply]
October 30th, 2009 - 18:48
goooooddd
[Reply]
October 30th, 2009 - 18:48
night
[Reply]
October 30th, 2009 - 18:49
Wilujeung wengi Kang
[Reply]
October 30th, 2009 - 18:49
Atos ibak..?
[Reply]
October 30th, 2009 - 18:50
Nuju leleson ?
[Reply]
October 30th, 2009 - 18:51
Nuju nyantaiiiiii
[Reply]
November 1st, 2009 - 10:59
Wah, artikelnya keren kang. Memang, kita mesti kembali menjadi bangsa yang santun.
[Reply]
batavusqu Reply:
November 3rd, 2009 at 11:39
Bangsa yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
[Reply]
batavusqu Reply:
November 3rd, 2009 at 11:40
Bangsa yang Berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmad/ kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
[Reply]
batavusqu Reply:
November 3rd, 2009 at 11:42
Bangsa yang bersatu dan beradab serta berketuhanan yang Maha Esa
November 2nd, 2009 - 21:56
Wah Kang Dadang rajin banget. Saya usul bagaimana kalau dalam satu postingan bikin komeng sebanyak-banyaknya untuk pecahkan rekor.
Salam buat semuanya.
[Reply]
batavusqu Reply:
November 3rd, 2009 at 11:38
Alhamdulilah sudah ada pemenangnya hahahaha
[Reply]
November 2nd, 2009 - 22:28
SELAMAT MENGEMBALIKAN JATIDIRI BANGSA YANG HAMPIR PUNAH DI NEGERI INI KANG
[Reply]
November 3rd, 2009 - 23:36
wew wew, menggempur si komentator blog ha ha, maap lama g BW kang, ne balas gendam he he
[Reply]
November 20th, 2009 - 15:39
yang jelas, kita adalah bangsa yang beragama.
[Reply]
December 12th, 2009 - 06:28
Apa yang dimaksud mengembalikan jati diri bangsa? Apa sebenarnya jati diri bangsa itu? Tak dapat dipungkiri lagi bahwa sebuah bangsa akan kehilangan jati dirinya apabila dia tidak memiliki prinsip dan keunikan tersendiri.
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:37
Kita menyadari bahwa semangat kesatuan dan persatuan itu memang pernah disalahgunakan untuk mengendalikan negara secara otokratik.
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:38
Karenanya, mari kita kembalikan makna luhur dua kata itu menjadi niat untuk menjaga keutuhan bangunan negara yang kita cintai bersama, dalam suasana demokratis, bukan artificial.
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:38
Mengelola kebhinnekaan, jangan diartikan sebagai mencabik-cabik dan meruntuhkan bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:38
Kini, saatnya kita mengibarkan kembali semangat dan tekad bersatu dari Sabang sampai Merauke kita harus jaga keutuhannya, isinyalah yang kita tata dengan menempatkan keanekaragaman yang ada secara proporsional.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:39
Jangan pernah kita biarkan negeri ini terpecah berkeping-keping, hanya karena menonjolnya kepentingan sektoral, kedaerahan, dan juga kepentingan kelompok. Dalam hal ini yang kita kembangkan adalah constructive pluralism, bukan menerapkan misalnya minority by force atau minority by will.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:40
Sebagai bangsa yang merdeka, maka bangsa Indonesia mempunyai cita-cita dan tujuan seperti termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yakni adanya kehidupan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:40
Kebhinnekaan budaya masyarakat Indonesia merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus diterima sebagai kekayaan bangsa.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:40
Sejarah menunjukkan bahwa suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Nusantara ini, dengan keanekaragaman budayanya masing-masing, sejak dahulu telah saling berhubungan dan berinteraksi. Berdasarkan kesamaan visi mengenai masa depan, maka para pemuda dari suku-suku bangsa tersebut pada tahun 1928 telah mengikrarkan sumpah untuk menjadi satu bangsa dengan menggunakan bahasa persatuan dan bersama-sama hidup di satu tanah air. Dari peristiwa ini terlihat bahwa kebhinnekaan budaya bukan menjadi halangan untuk mewujudkan persatuan bangsa.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:41
Faktor kemajemukan serta adanya kesenjangan antar daerah yang makin menajam, dapat berdampak pada permasalahan di bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:28
Building partnership and alliances, kepemimpinan di masa depan akan mensyaratkan tim-tim kepemimpinan yang kolaboratif, setiap tim menguasai pelbagai ketrampilan yang disyaratkan oleh kepemimpinan global.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:16
Jati diri bangsa tersebut hanya dapat terbentuk melalui contoh perilaku pemimpin-pemimpin bangsa yang tangguh, yang mempunyai semangat perubahan, global dan transformational serta tetap memiliki semangat kebangsaan yang kuat. Tidak harus merupakan negarawan (statesman) yang merupakan manusia langka.
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:19
Karakter kepemimpinan tersebut adalah:…
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:20
Change leadership yang dapat melakukan sinergi positif antara enthusiasism, energy and hope , yang selalu menjaga optimisme, pantang menyerah dalam mengejar tujuan, disertai rasa percaya diri di satu pihak dengan moral purpose, understanding change, coherence making, relationship building ang knowledge creation and sharing di lain pihak.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:20
Dalam culture of change seorang pemimpin akan mengalami atau menikmati ketegangan yang merupakan kesatuan dalam beratnya memecahkan masalah. Di situlah sebenarnya keberhasilan terbesar terletak pada effective leaders make people feel that even the most difficult problems can be tackled productively.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:20
Transformational leadership dengan karakter:
* Able to set out bold vision;
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:21
Skilled in marshalling the intellectual and emotional equity of their people;
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:21
Caring for the individual at the highest level;
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:21
Ability to mind the mind;
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:21
Quick to recoqnize good ideas and have the intellectual honesty;
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:22
The imperative on institutionalization, to ensure continuity without disruption;
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:22
Wilingness to move away from his conventional role;
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:27
# Thinking globally yang mengandung pesan agar pemimpin selalu berusaha untuk memahami keanekaragaman sistem ekonomi, budaya, hukum dan politik, sebagai bagian dari warga negara dunia dengan visi dan nilai-nilai yang open ended. A home centric view will not be tolerated. Global leaders need to have a global level when making decisions (think globaly adt locally).
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:27
# Appreciating cultural diversity, diversitas dalam hal ini diartikan sebagai diversity of leadership style, industry style, individual behaviors and values, race, religion and sex, hal ini akan merupakan a key to competing successfully in the future.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:28
Developing technological savy, tanpa hal ini masa depan kemitraan dan jaringan global yang terpadu tidak mungkin terjadi.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 07:28
Sharing leadership, untuk membuat keputusan-keputusan yang efektif. Tidak seperti kepemimpinan individual saat ini, seorang pemimpin yang berhasil di masa depan akan bergerak secara terintegrasi.
December 12th, 2009 - 06:29
Bangsa kita misalnya, sudah dikenal dengan senyumannya. Itu adalah jati diri bangsa kita. Kita juga dikenal dengan kerukunannya. Bayangkan saja, ada banyak suku dan agama di Indonesia tapi semua bisa hidup berdampingan dan penuh kerukunan.
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:29
Tapi sayang, jati diri bangsa itu kini ternodai olah tangan-tangan kotor para politisi negeri ini. Dengan berbagai upaya mereka memecah belah bangsa tercinta ini.
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:31
Maka sudah saatnya kita mengembalikan jati diri bangsa ini. Menemukan kembali budaya kita yang terlindas jaman. Mencari arti hidup yang sebenarnya. Kita ini adalah bersaudara. Kita lahir dan makan dari tanah yang sama. Kita menghirup udara yang sama. Kita juga punya salah dalam diri kita.
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:31
Jadi, kenapa kita tidak melihat sisi positif dari saudara kita? Bukankah udara yang merasuk dalam tubuhnya adalah udara yang sama dengan yang kita hirup. Bukankah makanan yang menjadi darah dagingnya berasal dari tanah yang sama dengan makanan kita.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:32
Sesungguhnya kita ini hanya terpisah oleh badan. Tapi darah, daging dan udara yang kita miliki adalah sama. Sungguh aneh jika kita menghina saudara kita. Karena penghinaan terhadap saudara kita adalah penghinaan terhadap diri kita sendiri.
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:32
Sebenarnya ada banyak cara mengembalikan jati diri bangsa kita. Tapi kita perlu tahu dulu bagaimana sih bangsa kita ini sebenarnya. Dan pengembalian ini juga tidak boleh serta merta menjadi kemunduran.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 12th, 2009 at 06:33
Maka satu-satunya cara untuk mengembalikan Jati Diri bangsa ini adalah dengan mulai memanfaatkan dan menggunakan budaya-budaya asli Indonesia dengan semaksimal mungkin. Memang butuh waktu dan pembiasaan, tapi lambat laun pasti bisa.