Nasihat Mbah Gendeng tentang 14 Haji Mabrur dan Qurban Idul Adha
Nasihat Mbah Gendeng tentang 14 Haji Mabrur dan Qurban Idul Adha.. waaakakak.. Nasihat Mbah Gendeng tentang 14 Haji Mabrur dan Qurban Idul Adha.. hahaha.. lagi enak enak melamun tiba tiba.. ssssstttt.. duuaaarr.. Mbah Gendeng datang ngagetin saya.. sampai terbangun terperanjat.. nih Mbah Gendeng dasar Gendeng sukanya usil aja.. waaakakakakkk.. Mbah Gendeng malah tertawa terbahak bahak.. kenapa Mbah ada apa kok Mbah Gendeng semakin Gendeng datang malah tertawa tawa.. eee.. tiba tiba muka Mbah Gendeng berubah drastis.. langsung pasang muka sedih dan miris mode ON.. akhirnya saya juga jadi bingung dan ikutan gendeng.. weladalaaah kenapa kunaon Mbah Gendeng ini dalam hati saya..
Sunyi.. Sepi.. tiba tiba Mbah Gendeng bersuara memecah kesunyian.. Cucuku ingat kejadian jemaah haji saat Ibadah Haji tahun lalu di Negara Antah Berantah Negeri Atas Angin.. masih ingat engga.. ooo.. [14 haji mabrur bukan disini ternyata].. terusin aah.. bahwasanya jemaah haji tahun kemaren *pokonya kemaren gak tahu yang mana*… di Negara Antah Berantah Negeri Atas Angin yang konon nun jauh di sana.. dan terkenal sebagai negara kaya raya dan menganut nilai nilai spiritualias sangat tinggi.. *konon katanya*… naaah… yang mendapat “stempel haji mabrur” dari langiiiit… hihihi… *manggut manggut pura pura ngerti*… dari sekian banyak jumlah jamaah haji yang menunaikan ibadah hajinya… *400.000 orang jamaah mungkin lebih*... hanya empat belas <14> orang saja nyang mabruuur.. *coba hitung berapa percentagenya*... dan yang lebih parahnya lagi satu stempel diberikan kepada salah satu jamaah haji yang tidak jadi berangkat karena ada sesuatu halangan.. hihihi.. *geleng geleng*.. masa iya sih… *gak percaya*… memang benar benar Kabar Membingungkan..
Hmm.. dari perbincangan itu.. akhirnya… saya berfikir terserah benar atau tidaknya… mengenai ada tidaknya stempel haji mabrur dari langit… hihihi… wooow.. andaikan itu.. yayaya… andaikan berita itu memang benaaar benaaar terjadi disana di Negara Antah Berantah Negeri Atas Angin yang jauh di sana… sudah separah inikah… sudah seburuk itukah… apa menjelang kehancuran yang sangat bagi umat islam di sana… terus mereka yang banyak itu pergi kesana ngapain saja… apakah hanya jalan jalan… atau bagaimana… dan seharusnya juga bagaimana… padahal konon lagi mereka mereka itu pulang dengan gagah dan mungkin bangga serta sedikit sombongnya.. *mungkin*… daaaan… cuma buang uang aja aaaah.. waaaaah.. akhirnya saya juga bingung dan semakin tidak mengerti… alias benar benar binguung…
Hmm.. kalau bingung kenapa pake diposting segala… yayaya… *biarin aja dunk*… terus pertanyaan saya… *kok nanya*… apakah sebenarnya haji mabrur… sama enggak yaaa… fitrah diri.. beda yaaa… seperti waktu lebaran… kembali fitrah setelah menjalani ibadah puasa... terus fitrahnya yang mana... waaaah tambah bingung.. binguuung.. dan binguuuung… bantuin yaaa… mungkin yaa… mungkin tidak… kira kira kalau memang begitu adanya… mengapa yaaa.. ataukah harus begitu… waaaah makin tambah bingung… untungnya terjadinya di Negara Antah Berantah Negeri Atas Angin yang konon jauh di sana… teruuus… kok susah yaaa… mau jadi haji mabrur… atau lebiiih mudaaah jadi hajiiiii mabuuuur… mabur kesini… mabuuur kesanaa… mabuuuuur daaaah pokoke… teruuuus mohon petunjuk sesepuh bagaimana biar mabuuuuuuur… eeee… mabruuur.. biar hal ini tidaklah terjadi disini..
Mbah Gendeng kembali berkata memecahkan kebingungan yang melanda diriku.. cucuku ingat peristiwa sewaktu Sunan Kalijaga mau berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan di tengah perjalanan bertemu dengan Nabi Khidir.. kemudian beliau di suruh pulang kembali.. ada yang ketinggalan rupanya.. yayaya.. untuk menemukan HAJI di dalam DIRI.. menemukan Fitrah Diri dalam Ketenangan Jiwa.. dalam DIAM di keDIAManNYA.. bertawafnya seluruh diri.. berputarnya aliran darah menyebut Asma ALLAH.. lajunya aliran Nafas selalu mengelilingi baitul Makmur, Baitul Muharram dan Baitul Mukadis dalam diri manusia.. itulah Peer bagi beliau.. bandingkan dengan kita sekarang ini asal Punya duit bisa berulang kali pulang pergi.. haji berkali kali.. haji berpuluh kali.. secara lahiriah tetapi secara bathiniahnya entahlah.. yayaya.. entahlah.. akhirnya datang hanya menjadi turis saja.. karena perjalanan bathiniahnya tidak dipersiapkan dengan baik bahkan sibuk dengan perjalanan lahiriah saja.. Nah Camkan dan Dengar Baik Baik CUCUku sayang jangan lengah persiapkanlah bathinmu dan hati nuranimu untuk melakukan perjalanan panjang sehingga Lahir dan Bathinmu SIAP.. kata Mbah Gendeng sambil terbatuk batuk..
Diam sejenak Mbah Gendeng berkata lagi melanjutkan.. Mengenai Qurban Idul Adha.. Disebutkan dalam Al Qur'an, Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk mempersembahkan Ismail. Diceritakan dalam Al Qur'an bahwa Ibrahim dan Ismail mematuhi perintah tersebut dan tepat saat Ismail akan disembelih, Allah menggantinya dengan domba.
- 102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". [103] Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). [104] Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, [105] sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [106] Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [107] Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar
- surat Ash Shaaffaat ayat 102-107
Mbah Gendeng.. berdehem.. Hmm.. sesungguhnya ada sesuatu makna bathiniah yang terungkapkan dalam Qurban Idul Adha ini sehingga biasanya di mulai dengan puasa menjelang hari Idul Adha.. satu pelajaran besar dari Bapak Iman kita.. satu Persembahan yang Berharga Bagi DIA.. bukan sekedar kambing domba ataupun sapi.. Nabi Ibrahim telah menyerahkan segala galanya.. bahkan sesuatu yang melebihi HIDUP.. ANAK melebihi dari HIDUP seorang AYAH.. dia rela berikan untuk ALLAH.. sekarang kembali kepada diri kita.. sudahkah kita belajar dari Qurban Idul Adha.. memberikan sesuatu yang paling berharga milik kita.. mungkin ALLAH tidak butuh Kambing domba dan Sapi.. tapi maukah engkau semuanya mempersembahkan HIDUP.. yayaya.. HIDUP sebagai Persembahan Qurban Bakaran.. yang kudus dan berkenan kepada ALLAH.. yayaya.. Persembahkanlah seluruh HIDUPmu kepadaNYA.. lepas semua angan angan dan nafsu duniawi di dalam hatimu.. masuk dalam keTAUHIDan.. biarkan ALLAH Menjadi RAJA dan Duduk dalam Singgasana Hatimu.. Sesungguhnya inilah HAL yang UTAMA dan TERUTAMA dalam hidupmu di DUNIA ini cucuku.. sahut mbah Gendeng sambil mesem..
Sudah aaah.. Mbah Gendeng dah Cape.. yayaya.. cape deeeeh.. melihat kelakuan manungso jaman sekarang.. Mbah Gendeng mau balik dulu ke gunung Gendeng.. dadaaaaaaah cucuku chayaaaaank.. adios amigos permios.. kis byeeee.. Akhir kata… Semoga kejadian di negeri antah berantah yang konoooon katanyaaa nun jauh di sana itu… mudah mudahan tidak akan pernah terjadi di sini… yayaya... disini… dan dapat menjadi pelajaran bagi negeri kita tercinta… negeri yang sangat mengagungkan nilai nilai spiritual… nilai nilai keagamaan… nilai nilai kebenaran… nilai nilai moralitas… nilai nilai budi pekerti yang luhur.. nilai nilai ketuhanan… nilai nilai kejujuran… nilai nilai kasih sayang… semoga kita memohon kepada ALLAH SWT bahwa rombongan haji dari Negara kita semuanya mabruuuuur.. tanpa kecuali… biar tidak binguuuuuuung… widiiiiiiiiiiw... bayangin percentage nyang benar benar beribadah sama nyang cuma wara wiri... *bentar saya bayangin dulu*... *hiiiiiii tatuuuuut aaaaah ngeri*... dan menjadi satu masukan yang teramat penting agar kita menjadi haji dalam diri masing masing... yayaya... ini merupakan satu contoh yang nyata ketika Bentuk dan Makna… Lahir dan Bathin… Laku dan Esensi.. tidak bergandengan erat dengan mesra… sehingga mereka melakukan pekerjaan yang sia sia belaka… sekedar euforia dan hura hura… wallahuallam…
RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk
MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll
Saresehan Budaya Spiritual Nusantara , Semangat Sumpah Pemuda Mengembalikan Jati Diri Bangsa , Sejarah Sumpah Pemuda , Bangun Rasa Kebersamaan untuk Mengembalikan Jati Diri Bangsa , Pancasila Sebagai Jati Diri Bangsa , hmm.. Mengembalikan Jati Diri Bangsa , Triwikrama Budaya Sarana Mengembalikan Jati Diri Bangsa, Mengembalikan Jati Diri Bangsa 2 , Mengembalikan Jati Diri Bangsa 3 , Mengembalikan Jati Diri Bangsa 4 , Komeng untuk Mengembalikan Jati Diri Bangsa






December 2nd, 2009 - 20:58
Malam.
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 9th, 2009 at 06:07
Di samping itu semua, Hari Raya Qurbanpun merupakan Hari Raya yang berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang akan dikorbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainya meluapkan rasa gembira dan sukacita yang dalam. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi krisi ekonomi dan moneter yang dialami sekarang ini, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 9th, 2009 at 06:08
AGAMA mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban. Karena hanya dengan niat yang terikhlalah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalsan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 9th, 2009 at 06:08
Dengan syari’at qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk menebalkan rasa kemanusiaannya, mengasah kepekaannya dan menghidupkan hati nuraninya. Ibadah qurban ini sarat dengan nilai kemanusiaan dan mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi. Oleh karenanya orang Islam yang tidak mampu mewujudkan nilai-nilai kemasyarakatan, dianggapsebagai pendusta agama(QS Al-Ma’un, 107:1-3). Karena ibadah haji dan Idul Qurban kali ini datang di saat sebagian besar kaum muslimin sedang dalam kesulitan ekonomi, maka mari kita manfaatkan momen ini untuk mawas diri dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Fastabiqul-khairat. Maka kita berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 9th, 2009 at 06:09
Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhlasan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat keserakahan dan ketamakan manusia untuk berlaku serakah dan tamak, namun kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 9th, 2009 at 06:09
Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 9th, 2009 at 06:09
Semoga amalan kita bertambah dari tahun yang telah lalu dan dosa kita diampunkan oleh Allah SWT. Mari kita gunakan segala peluang yang ada demi menambah bekal akhirat kita sebelum bertemu dengan-Nya di hari yang tidak ada pertolongan lain selain mereka yang menemui-Nya dalam keadaan hati yang bersih dan selamat daripada kekotoran dosa dan noda.
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 9th, 2009 at 06:11
Dalam Islam, sejarah disyariatkannya kurban kembali kepada peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Kala itu, ada anggapan bahwa manusia terlalu mahal untuk dijadikan kurban demi Tuhan. Lalu lewat Nabi Ibrahim, Allah menjelaskan, tiada sesuatu yang mahal dikurbankan bila panggilan telah datang. Allah SWT lantas memerintahkan Ibrahim agar menyembelih anaknya, sebagai bukti bahwa manusia pun dapat dikurbankan bila panggilan Ilahi tiba.
[Reply]
December 2nd, 2009 - 21:00
Gimana hasil keputusan?
[Reply]
December 3rd, 2009 - 14:55
335
[Reply]
December 3rd, 2009 - 14:55
336
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 9th, 2009 at 06:12
336,5
[Reply]
Seti@wan Dirgant@Ra Reply:
December 9th, 2009 at 06:13
Sebagai pertanda bahwa pengorbanan, harus ditunaikan. Dan, yang dikurbankan adalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia, seperti rakus, ingin menang sendiri, mengabaikan norma, nilai, dan sebagainya. ”Yang sampai kepada Allah bukan darah atau dagingnya tetapi ketakwaan pelakunya” (Q.S.22:37). Ketakwaan itu tecermin antara lain ketika daging kurban dibagikan kepada yang memerlukan. ahi
[Reply]
December 3rd, 2009 - 14:56
337
[Reply]
December 3rd, 2009 - 14:57
338
[Reply]
December 3rd, 2009 - 15:00
Sore kangboed.
[Reply]
December 5th, 2009 - 14:32
Sore lagi kang.
[Reply]
December 5th, 2009 - 14:34
Semoga mbah gendeng tidak bosan mengingatkan kangboed.
[Reply]
December 9th, 2009 - 06:07
Kebahagiaannya yang sebenarnya akan tercapai, apabila manusia menyadari bahwa fungsi keberadaannya didunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan (QS Al-Dzarriyat, 51:56)
[Reply]
December 9th, 2009 - 06:10
”Kurban” dari bahasa Alquran qurban, terdiri dari kata qurb yang berarti ”dekat” dengan imbuhan an yang mengandung arti ”kesempurnaan”, sehingga berarti kedekatan yang sempurna.
[Reply]
December 9th, 2009 - 06:11
Dalam istilah keagamaan, kata ini mulanya berarti ‘’segala sesuatu yang digunakan mendekatkan diri kepada Allah”, kemudian artinya menyempit, menjadi ”binatang tertentu yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan tiga hari sesudahnya dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya”.
[Reply]
January 3rd, 2010 - 11:01
Alhamdullilah , saya menyempatkan berkurban tahun lalu, insya Allah thun dpan kmbali dberi kmudahan..btw ini pertama x sya nyasar ksini kangboed..salam kenal y smw..
[Reply]